toko online oleh-oleh, toko oleh-oleh padang, makanan khas padang, jajanan khas padang, cemilan khas padang, kerupuk balado, kerupuk sanjai, keripik padang, rendang, khas minang, minangkabau, oleh oleh minang padang, keripik singkong

OlehOlehMinang.com: Toko Online Oleh-Oleh Padang dan Kerajinan Khas Ranah Minang Sumatera Barat

Oleh-Oleh Padang dan Kerajinan Khas Ranah Minang

Sumatera Barat memiliki banyak keunikan, Salah satunya adalah “ Sistem Kekerabatan Matrilineal” yaitu “Sistem kekerabatan berdasarkan Garis Keturunan Ibu”. Setiap anak yang lahir dalam sebuah keluarga minang akan menjadi kerabat keluarga ibunya, bukan kerabat ayahnya yang biasa terjadi di suku-suku lain di Indonesia. Hal ini menjadikan ciri khas tersendiri bagi Minangkabau yang membedakannya dengan suku lain di Indonesia, berikut dijelaskan kenapa orang minang menganut garis keturunan ibu atau matrilineal atau matriakhi dan bukannya patrilineal.

matrilineal

 

1. Secara Logika
Selain di Minangkabau yang menganut Matrilineal ada juga daerah lain yg menganut sistem tsb yaitu : Negara Bagian Gowa ( India )dan Malagasi di Afrika. Betapapun Modernnisasi melanda Minangkabau, Budayanya tetap tdk akan tergusur. Harta ulayat diwariskan kepada perempuan. Sedangkan kaum lelaki hanya mengawasinya. Kenapa Kaum Ibu ?
a. Yang ada didunia adalah : Ibu Negara, Ibu Kotadan Ibu Jari, tidak ada Bapak Negara,Bapak Kota atau Bapak Jari.
b. Dalam Etika Antre berbasa basi kita mendengar Ladies First .
c. Dalam Al-Quran terdapat Surat Annisa ,tidak terdapat Surat Rajulun.
d. Kuburan Nenek moyang manusia Siti Hawa diabadikan untuk nama kota Jeddah ( Nenek di Arab Saudi tapi tidak diketahui makam Nabi Adam as.

2. Dalil Alquran dan hadist
a. Al-Quran.
Adanya surat Annisa yang khusus membahas masalah tentang wanita.
Kata nasab di dalam Alquran disebutkan dalam tiga tempat.
Pertama, dalam surat Al-Mukminun ayat 101 yang artinya, “Ketika sangkakala ditiup (kiamat) maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.”

Dijelaskan di ayat 101 itu bahwa perhubungan keturunan tidaklah dapat menolong lagi, kekeluargaan tak dapat membela. Anak Nabi Nuh tidak¬lah dapat melindungkan diri kepada kebesaran ayahnya. Isteri Nabi Luth tidak lah dapat bergantung kepada kelebihan suaminya. Abu Lahab tidaklah dapat dilindungi oleh anak saudaranya Nabi Muhammad S.A.W. Sedangkan Nabi lagi demikian dengan keluarganya, apakah lagi manusia yang seperti kita ini. Sebab semua orang telah sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Barangkali Allah SWT Yang Maha Bijaksana tidak mau menetapkan nasab harus diambil dari salah satu pihak karena semua itu tak akan berguna di akhir zaman nanti kecuali amal ibadah kita selama hidup didunia.

Kedua, dalam surat Al-Furqan ayat 54, “Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia berketurunan (nasab).. dan mushâharah, dan adalah Tuhan-mu Maha Kuasa.

Tentang tafsir ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Allah menciptakan air mani berwarna putih, lalu meletakkannya di sulbi Adam. Setelah itu, ia dipindahkan ke sulbi Syaits, lalu ke sulbi Anusy, sulbi Qainan, dan terus berpindah dari sulbi orang-orang mulia ke rahim wanita-wanita suci sampai Allah menjadikan(nya) berada di sulbi Abdul Mutalib. Dia lalu membaginya menjadi dua, sebagian diletakkan di sulbi Abdullah dan yang lain di sulbi Abu Thalib. dari mereka, lahirlah Muhammad S.A.W dan Ali. Makna ‘mushaharah’ adalah Fathimah binti Muhammad dan Muhammad adalah bagian dari Ali, hasan, dan Husin.”Dalam ayat ini tidak dijelaskan kita harus bernasab ke Bapak atau Ibu.

Ketiga, dalam surat as-Saffaat ayat 158,” Dan mereka adakan (hubungan ) nasab antara Allah dan jin.Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar2 akan diseret ( ke neraka )”.

Ditafsirkanantara Dia( Allah ) dan jin” (37 :. 158) mengacu pada fakta bahwa Quraisy mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah dan ibu mereka adalah putri jin perempuan yang mulia “Tapi jin tahu betul bahwa mereka akan diseret” (37:158) berarti bahwa mereka akan dipanggil untuk perhitungan.Dalam ayat ini jelas Nampak kaum Quraish tdk konsekwen perbuatan dgn keyakinannya yg salah pada hal punya anak perempun dimata mereka adalah kehinaan sebelum Islam datang.
Dari ayat ini juga tidak disinggung nasab tentang kita manusia.

b. Hadist.
“ Surga itu terletak di bawah kaki Ibu “
Menghormati ibu tiga kali…..Ummuka…. Ummuka….. Ummuka baru Abuka…
Nabi SAW bersabda, “Wanita dinikahi karena empat hal, karena agama, harta, kecantikan, dan nasab (keturunannya). Maka pilihlah agamanya maka akan menguntungkan kamu.” (HR Abu Dawud).

Dalam hadist ini juga Nabi SAW tidak menyebutkan kita menikahi perempuan harus dari salah satu nasab.
Hadist Riwayat Muslim “ Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan,sesungguhnya kamu ambil mereka dengan kepercayaan Allah & kamu halalkan mereka dgn kalimat Allah”.

3. Fitrah Manusia Ketika Lahir ke alam Dunia
a. Bukankah bayi yang sudah bicara waktu menangis memanggil “ Maak…maak ? “
b. Dalam mengekspresikan keluhan terucap “ Ondeh Mandeh “ Memaki lawan terlontar “ Mandeh aang !
c. Waktu lahir siapakah saksinya ? Tidak ada yang tahu kecuali Tuhan dan sang ibu ketika proses pembapakan terjadi.Sementara untuk seorang ibu,sangat lah jelas,sangat transparan.Sembilan bulan Ibu mengandung bakal anaknya.Pasti banyak orang melihat.Ketika melahirkan pun ada saksinya,paling tidak bidan yang menolong persalinan.
d. Keturunan menurut garis ibu adalah pasti dan murni.Hanya dari seorang ibu dapat dibuktikan ia melahirkan seorang anak.Sedangkan dari Bapak tidak,tidak ada saksinya.

Ada pun yang selalu dipertanyakan, ketua LKAAM, diantaranya, tentang tidak sesuainya adat minang dengan syara. Misalnya, dalam agama kekerabatan tidak matrilineal, atau garis keturunan dari ibu. Kenapa di Minangkabau garis keturunan justru dari ibu? Sayuti menjelaskan, dalam Islam memang tidak ada hadits yang mengatakan kekerabatan matrilineal, namun tidak ada juga hadits yang melarangnya. Bahkan, nabi justru menyuruh menghormati ibu tiga kali lebih dari ayah.

Kemudian, Sayuti juga sering mendapat pertanyaan, kenapa harta pusaka tidak boleh dijual dan dibagikan pada anak? Padahal dalam Islam orangtua harus membagi harta pada anak laki-lakinya. Pria yang akrab dipanggil Datuk ini mengatakan, dalam Minang harta pusaka terbagi dua, yaitu ; Harta pusaka yang merupakan harta milik seluruh anggota keluarga yang diperoleh secara turun temurun melalui pihak perempuan. Anggota kaum memiliki hak pakai dan biasanya pengelolaan diatur oleh datuk kepala kaum. Harta pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan dan hanya boleh digadaikan.

Pusako tinggi tidak boleh dijual karena bukanlah pencarian atau pembelian orangtua kita. Harta pusaka tinggi tidak jelas siapa yang punya pertama kali dan pemilik pertama biasanya adalah orang yang membuka lahan pertama kali. Dia tidak pernah meninggalkan wasiat untuk boleh menjual. “Logikanya sederhana saja, secara Islam, kalau kita menjual harta yang bukan milik kita, dan tidak ada wasiat untuk kita, hukumnya haram. Makanya tidak boleh dijual,” bebernya.
Selanjutnya kenapa di Minangkabau pimpinan kaum tidak ada perempuan? Menurut Sayuti, dalam Islam juga tidak ada panglima perang perempuan. Pasalnya, dalam sejarah dijelaskan, setiap panglima menjelang pergi perang berwudhu dan pergi dalam keadaan suci dan hati yang ikhlas. Sehingga ketika gugur langsung dimakamkan supaya mendapatkan gelar mujahidin. Perempuan tidak mungkin bisa seperti itu, karena ada masa datang bulan dan keadaan tidak suci. Selain itu, menurutnya itu sangat sesuai dengan agama, contohnya, nabi juga tidak ada yang perempuan.

4. Kedudukan Perempuan di Minangkabau
Perempuan/ibu –yang disebut bundokanduang– digambarkan sebagai limpapeh (tiang) rumah nan gadang (rumah tangga). Peran utamanya ada dua; pertama, melanjutkan keberadaan suku dalam garis Matrilineal dan kedua, menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Dalam sistim keluarga matrilineal, selain memiliki keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga punya keluarga kaum (extended family). Dalam keluarga kaum terhimpun keluarga Samandeh (se-ibu). Anggota keluarga Samandeh berasal dari satu Rumah Gadang dan dari saudara seibu. Pimpinan dari keluarga Samandeh adalah Mamak Rumah (yaitu seorang saudara laki-laki dari ibu). Sistem ini menempatkan laki-laki pada peran pelindung, dan pemelihara harta dari perempuan dan anak turunan saudara perempuannya.

Keterkaitan dan keterlibatan seorang individu dalam sistim matrilineal terhadap keluarga inti dan keluarga kaum adalah sama. Dimana seorang perempuan, walau sudah menikah tidak lepas dari ikatan kaumnya. Perempuan Minang dikatakan memegang “kekuasaan” seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, ia memiliki kebesaran yang bertuah (kata-katanya didengar oleh anak cucu). Hal ini makin memperjelas kokohnya kedudukan perempuan Minang pada posisi sentral.

Sedangkan ayah dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, adalah bapak dari anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang diikat dengan satu hubungan pernikahan. Suku anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut ditentukan mengikuti garis keturunan ibu mereka. Seorang suami tidak punya kewenangan mengatur keluarga pihak istrinya namun kedudukannya sebagai sumando (menantu) begitu dihormati oleh kaum istrinya. Dan di sisi lain, dia tetap mempunyai keterikatan dan tanggung jawab terhadap kaumnya sebagai penghulu dan niniak mamak. Sehingga, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai bapak dari anak-anaknya, tapi juga sebagai mamak dari kemenakannya dan berkewajiban memperhatikan dan menjaga para kemenakan tersebut. Dia wajib melindungi keduanya, sesuai pepatah adat Minang “anak dipangku kamanakan dibimbiang” (anak dipangku keponakan dibimbing).

Oleh karena itu lahirlah sebuah kompromi dari sistim matrilineal dan syariat Islam, bahwa generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya dan bersuku ibunya. Suatu persenyawaan agama dan budaya yang sangat indah.

yang jadi masalah sampai kini ko urang awam dak mangarati kalau masalah adaik tu khusus untuak adaik ijan dicampua aduak jo ego masiang-masiang batuah dak .

urang minang tu mamuliakan kaum induak karano kaum induak tu panghuni rumah gadang ijan kaum induak tu terlantar karano kaum bapak tu lai bapitih.
sadangkan kaum induak ko kamano ka dicari kok suami no alah maningga ..

nan jaleh nan wak bahas ko adaik pusako dilua adaik pusako Minang dak wak bahas du bia fokus ok karano janjangnyo alah lain tu mah .

dak ado yang manyimpang dari syariah tu surang namun kini karano urang dak banyak tahu jo adaik banyak dak mangarati jadi asa mangecek-sen sakalamak paruiknyo surang .

5. Islam memberi kedudukan dan penghormatan yang tinggi kepada wanita,
dalam hukum ataupun masyarakat. Dalam kenyataan, jikakedudukan tersebut tidak seperti yangdiajarkan ajaran Islam maka itu adalah soal lain. Sebab, struktur, adat, kebiasaan dan budayamasyarakat juga memberikan pengaruh yang signifikan.

Beberapa bukti yang menguatkan dalil bahwa ajaran Islam memberikan kedudukantinggi kepada wanita, dapat dilihat pada banyaknya ayat Alquran yangberkenaan dengan wanita. Bahkan untuk menunjuk kan betapa pentingnya kedudukan wanita, dalam Alquran terdapat surah bernama An-Nisa, artinya wanita. Selain Alquran, terdapat berpuluh hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang kedudukan wanita dalam hukum dan masyarakat. Pada masyarakat yang mengenal praktik mengubur bayi wanita hiduphidup,ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sangat revolusioner, yakni: “Yangterbaik diantara manusia adalah yang terbaik sikap dan prilakunya terhadapkaum wanita”. Atau pula: “Barangsiapa yang membesarkan dan mendidik dua putrinya dengan kasih sayang, ia akan masuk sorga”. Kemudian: “Sorga itu berada di bawah telapak kaki ibu” (hadits).

Dalam catatan sejarah dapat ditelusuri, ajaran Islam telah mengangkatderajat wanita sama dengan pria dalam bentuk hukum, dengan memberikan hakdan kedudukan kepada wanita yang sama dengan pria sebagai ahli waris mendiang orangtua atau keluarga dekatnya. Hukum Islam pula yang memberikan hak kepada wanita untuk memiliki sesuatu (harta) atas namanya sendiri.Padahal ketika itu kedudukan wanita rendah sekali, bahkan dalam masyarakat. Arab yang bercorak patrilineal sebelum datang Islam, wanita mempunyai banyak kewajiban, tetapi hampir tidak mempunyai hak. Wanita dianggap benda belaka,ketika masih muda ia kekayaan orangtuanya, sesudah menikah ia menjadi kekayaan suaminya. Sewaktu-waktu mereka bisa diceraikan atau dimadu begitusaja.Fisiknya yang lemah, membuat wanita dipandang tak berguna karena ia tak dapat berperang mempertahankan kehormatan. Pandangan ini tentu saja merendahkan derajat wanita dalam masyarakat. Kedudukan wanita yang rendah itulah, kemudian menjadi salah satu hal yang diperangi dan ditinggalkan olehajaran Islam.

Menurut ajaran Islam:
1. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam pandangan Allah (QS Al-Ahzab:35,Muhammad:19). Persamaan ini jelas dalam kesempatan beriman, beramal saleh atau beribadah (shalat, zakat, berpuasa, berhaji) dan sebagainya.
2. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam berusaha untuk memperoleh,memiliki, menyerahkan atau membelanjakan harta kekayaannya (QS An-Nisa:4 dan 32).
3. Kedudukan wanita sama dengan pria untuk menjadi ahli waris dan memperoleh warisan,sesuai pembagian yang ditentukan (QS An-Nisa:7).
4. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan: “Mencari/menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban muslim pria dan wanita” (Hadits).

5. Kedudukan wanita sama dengan pria dalam kesempatan untuk memutuskan ikatan perkawinan, kalau syarat untuk memutuskan ikatan perkawinan ituterpenuhi atau sebab tertentu yang dibenarkan ajaran agama, misalnya melaluilembaga fasakh dan khulu’, seperti suaminya zhalim, tidak memberi nafkah,gila, berpenyakit yang mengakibatkan suami tak dapat memenuhi kewajibannya dan lain-lain.

6. Wanita adalah pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan,kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa:1, At-Taubah:71,ArRuum:21, Al-Hujurat:13). QS Al-Baqarah:2 menyimbolkan hubungan saling ketergantungan itu dgn istilah pakaian; “Wanita adalah pakaian pria, dan pria adalah pakaian wanita”.

7. Kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria untuk memperoleh pahala (kebaikan bagi dirinya sendiri), karena melakukan amal saleh dan beribadahdi dunia (QS Ali Imran:195, An-Nisa:124, At-Taubah:72 dan Al-Mu’min:40). Amal saleh di sini maksudnya adalah segala perbuatan baik yang diperintahkan agama, bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan hidup dan diridhai Allah SWT.

8. Hak dan kewajiban wanita-pria, dalam hal tertentu sama (QSAl Baqarah:228, At-Taubah:71) dan dalam hal lain berbeda karena kodratmereka yang sama dan berbeda pula (QS Al-Baqarah:228, An-Nisa:11 dan 43). Kodratnya yang menimbulkan peran dan tanggung jawab antara pria dan wanita,maka dalam kehidupan sehari-hari –misalnya sebagai suami-isteri–fungsi mereka pun berbeda. Suami (pria) menjadi penanggungjawab dan kepalakeluarga, sementara isteri (wanita) menjadi penanggungjawab dan kepala rumahtangga.

Menurut ajaran Islam, seorang wanita tidak bertanggungjawab untuk mencari nafkah keluarga, agar ia dapat sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada urusan kehidupan rumah tangga, mendidik anak dan membesarkan mereka. Walau demikian, bukan berarti wanita tidak boleh bekerja, menuntut ilmu atau melakukan aktivitas lainnya. Wanita tetap memiliki peranan (hak dan kewajiban) terhadap apa yang sudah ditentukan dan menjadi kodratnya. Sebagai anak (belum dewasa), wanita berhak mendapat perlindungan, kasih sayang dan pengawasan dari orangtuanya. Sebagai isteri, ia menjadi kepala rumah tangga, ibu, mendapat kedudukan terhormat dan mulia. Sebagai warga masyarakat dan warga negara, posisi wanita pun sangat menentukan.

Sumber : minangkabaunews

Categories: Carito

Leave a Reply